Ditjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud Teken Nota Kesepahaman dengan KEK Singhasari

Author : Administrator | Rabu, 14 Oktober 2020 15:09 WIB | Koran Tempo - Koran Tempo

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto (kedua kiri), Pelaksana tugas Bupati Malang Sjaichul Gulam (ketiga kiri) dan Direktur Utama PT Intelegensia Grahatama David Santoso (kanan) dalam acara penandatanganan nota kesepahaman antara Ditjen Pendidikan Vokasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari, di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu, 10 Oktober 2020.

INFO NASIONAL-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi terus berupaya menjalin kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Hal ini dilakukan agar dunia pendidikan tidak tertinggal jauh dengan perkembangan dunia industri. Agar link and match dapat terus berjalan secara berkesinambungan, Ditjen Pendidikan Vokasi juga telah mewajibkan lembaga pendidikan vokasi untuk melaksanakan paket-paket dalam program tersebut.

“Dalam pelaksanaan paket link and match, industri terlibat dalam perencanaan pembelajaran, proses belajar dan evaluasi. Ini merupakan mekanisme kerja sama saling menguntungkan antara sekolah dengan industri,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto. Hal itu disampaikannya di sela-sela penandatanganan nota kesepahaman Kemendikbud dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari tentang ‘Pengembangan Pendidikan Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi’ serta tentang ‘Peningkatan Kompetensi Sumber Daya Manusia Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi pada Pendidikan Vokasi’. Kegiatan itu dilaksanakan di Museum Singhasari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu, 10 Oktober 2020.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Wikan dengan Direktur Utama PT Intelegensia Grahatama David Santoso selaku Badan Usaha Pembangunan dan Pengelolaan KEK Singhasari.  Hadir dalam penandatanganan itu Pelaksana tugas Bupati Malang Sjaichul Ghulam, Rektor Universitas Brawijaya, Direktur Politeknik Negeri Malang (Polinema), Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, perwakilan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Ketua Yayasan Pendidikan Telkom.

Ketika memberikan sambutan, Wikan menuturkan bahwa yang dibutuhkan dari link and match ialah kalau sudah nge-link, harus nge-match antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Untuk mengeksekusi gagasan tersebut agar menjadi kenyataan, kata Wikan, setidaknya ada tiga langkah yang sudah dan akan ditempuh.

Pertama, pihaknya telah memberi pelatihan kepada 100 guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam hal cloud computing technology. Selanjutnya, ribuan kepala SMK akan ditraining agar memiliki leadership dan mengubah mindset selama ini.  Inputnya, para guru itu harus bisa mengintervensi kurikulum (dalam pengertian positif) supaya nyambung dengan dunia industri.

“Ini syarat pertama link and match, bahwa antara dunia pendidikan dengan dunia kerja harus ‘dinikahkan.’ Kalau kurikulum perguruan tinggi tidak di-match-kan dengan industri, kalau guru dan dosen tidak di-match-kan kompetensi dan pola pembelanjarannya, maka ya percuma,” ujarnya.

Karena itu, kata Wikan, para pendidik harus mulai disiapkan, terutama guru yang memiliki kompetensi dan visi  masa depan. Wikan mengibaratkan seorang guru harus seperti mantan pelatih Manchester United Sir Alex Ferguson yang mampu memoles Christiano Ronaldo menjadi pemain sepak bola hebat.  “Kita bisa melahirkan jutaan Ronaldo dari perguruan tinggi dan SMK vokasi, yang nantinya akan mengisi KEK Singhasari ini,” tutur Wikan.

Langkah kedua, Wikan mendorong munculnya gebrakan out of the box dari kampus-kampus vokasi. Ia misalnya menunggu Polinema mendirikan program studi cloud computing technology setara D-4 yang bermitra dengan kampus luar negeri dan kawasan Sillicon Valley di Amerika Serikat. “Sehingga dosen tak hanya hebat dalam bidang akademik saja, tapi juga jago sebagai networkermarketerproduction managercarier center, dan lain-lain,” katanya.

Adapun langkah ketiga, Direktorat Jenderal Vokasi sedang merancang masuknya industri-industri hebat Jerman ke Indonesia untuk memperkuat link and match tersebut. Selain itu, juga dijalin kerja sama dengan sejumlah kawasan industri, seperti Kendal dan Cikarang.  Dengan demikian, kata Wikan, yang dibutuhkan sekarang tak hanya sekedar link and match, melainkan link and supermatch. “Supaya anak-anak vokasi belajarnya tidak hanya teori, tapi project riil,” ujarnya.

Wikan mengapresiasi KEK Singhasari yang telah mengimplementasikan link and match. Ia berharap kerja sama ini dapat ditiru dan diimplementasikan di daerah kawasan industri lainnya, serta di daerah yang bukan kawasan industri. Adapun David Santoso mengatakan, KEK Singhasari memang diproyeksikan sebagai Silicon Valley-nya Indonesia. “KEK Singhasari dirancang sebagai education distric yang kami harapkan dapat mengasilkan SDM unggul,” ucapnya.

KEK Singhasari merupakan KEK pertama di bidang pengembangan teknologi. KEK Singhasari ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2019. Hal itu sesuai arahan Presiden Joko Widodo untuk membangun Indonesia lima tahun ke depan, di antaranya prioritas pada pembangunan SDM. Dengan aktivitas ekosistem digital yang terintegrasi, diharapkan menjadi katalis pertumbuhan perekonomian digital di Indonesia menyongsong “Indonesia Emas 2045.”

Dengan menjalin kesepahaman dengan Kemendikbud, KEK Singhasari diharapkan menjadi mitra industri bagi satuan pendidikan vokasi yang berperan aktif dalam sembilan hal penting, yaitu:

  1. Penyelarasan kurikulum,
  2. Peningkatan kompetensi SDM,
  3. Pengembangan materi pelatihan,
  4. Fasilitas pendidik dari DUDI,
  5. Pengembangan dan pemanfaatan sarana dan prasarana,
  6. Fasilitasi sertifikasi kompetensi,
  7. Fasilitasi riset terapan,
  8. Fasilitasi rekrutmen lulusan, dan
  9. Fasilitasi pemberian beasiswa. (
Sumber: https://nasional.tempo.co/read/1394834/ditjen-pendidikan-vokasi-kemendikbud-teken-nota-kesepahaman-dengan-kek-singhasari/full&view=ok
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Shared: