Perguruan Tinggi Diharapkan Mengadopsi Model Pembelajaran Kolaborasi

Author : Administrator | Selasa, 20 September 2016 13:21 WIB | Koran Pendidikan - Koran Pendidikan

UMM dalam Berita Koran Online

Workshop Teacher Practicum Laboratorium School/DEWIYATINI/PR
WORKSHOP Teacher Practicum Laboratorium School Training di Best Western Hotel Jalan Merdeka, Selasa, 20 September 2016.*

 

BANDUNG,(PR).- Perguruan tinggi keguruan diharapkan dapat mengadopsi model pembelajaran kolaborasi untuk praktek lapangan. Dengan dikenalkan lebih dini, calon guru dapat lebih mudah mempraktikkannya ketika ia terjun sebagai pengajar.

"Tapi kami tidak bisa memaksakan model pembelajaran ini dalam sebuah regulasi. Model ini hanya metode untuk merencanakan pengajaran dan mempraktikkannya," kata Teaching & Learning Advisor USAID PRIORITAS Lynne Hill ketika ditemui dalam kegiatan Workshop Teacher Practicum Laboratorium School Training di Best Western Hotel Jalan Merdeka, Selasa, 20 Septmber 2016.

Hill menyebutkan saat ini sejumlah LPTK telah mengadopsi model kolaborasi antara dosen, guru pamong, dan mahasiswa praktikan dalam praktek lapangan. Model tersebut, kata Hill, dapat memberikan ide model pengajaran dan mengimplementasikannya. Selama ini, tidak ada kolaborasi antara dosen, guru, dan mahasiswa saat praktek lapangan.

Hill mengatakan model kolaborasi ini seharusnya dilakukan oleh perguruan tinggi. Namun, saat ini, USAID PRIORITAS telah membuatnya sejumlah workshop tentang perencanaan pengajaran. Akan tetapi, ini terbatas bagi sekolah mitra USAID PRIORITAS dan perguruan tinggi yang bekerja sama.

Ke depan diharapkan akan ada semakin banyak perguruan tinggi yang mengadopsi model kolaborasi itu dalam praktik lapangan. Sehingga, model itu dapat menarik minat siswa dalam belajar.

Koordinator Jawa Barat USAID PRIORITAS Erna Irnawati menyebutkan dalam praktek lapangan, seringkali mahasiswa praktikkan dijadikan asisten guru pamong. Sehingga guru memiliki kebebasan untuk melepas pembelajaran dan mendelegasikan kewajibannya pada mahasiswa praktikkan.

"Seharusnya, mahasiswa dibimbing dari awal sampai akhir oleh dosen dengan guru pamong," katanya.

Di lain pihak, guru pamong dan dosen juga harus mampu mendorong mahasiswa praktikan lebih mandiri. Ini berkaitan dengan kemampuan menyiasati fasilitas yang kurang memadai. Mahasiswa harus lebih kreatif menciptakan perangkat pembelajaran yang sederhana dari bahan yang ada.

Dalam praktek pengajaran lapangan itu, peran dosen pembimbing dan guru pamong menjadi penting. Mahasiswa calon guru tidak sendirian dalam menjalani praktek lapangan. Proses pembimbingan praktikan di lapangan semestinya dapat menemukan kelebihan dan kekurangan praktikan.

Lebih lanjut, Koordinator Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) USAID PRIORITAS Khaerudin mengatakan dalam workshop kali ini dikhususkan untuk guru SD dan MI dari sekolah mitra Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati. Ada 6 sekolah yang bergabung. Dan dari masing-masing sekolah, 10 guru menjadi peserta pelatihan.

Selain guru, ada juga dosen dan mahasiswa calon guru dari UPI dan UIN yang menjadi peserta. Dosen, Guru, dan mahasiswa bersama membuat rancangan pengajaran untuk siswa SD.

Disebutkan Khaerudin, beban merancang pengajaran akan lebih berat untuk guru SD terutama yang mengajar di kelas awal. Apalagi siswa yang diajar masih belum mengenal angka dan huruf dengan baik sehingga diperlukan metode menarik untuk merangsang minat siswa belajar.

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Dian Ekawati mengatakan model kolaborasi tersebut telah dimasukkan dalam buku panduan untuk praktek lapangan. Menurut Dian, model itu akan dipakai mulai tahun depan oleh mahasiswa semester 6 yang mulai praktik.

Dian mengatakan model yang dikembangkan USAID merupakan model baru yang segera diadaptasi oleh kampusnya. Terutama dalam model tersebut, ada kolaborasi antara mahasiswa dengan dosen praktek lapangan dan guru pamong.

"Mereka dapat belajar merencanakan pengajaran dan mempraktikkannya," ujarnya. ***

Tags: 
perguruan tinggi
keguruan
model pembelajaran
kolaborasi
Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image