Sempat Dikira Buatan Pabrik, Robot Buatan Mahasiswa UMM Juara di Amerika

Author : Administrator | Rabu, 09 Agustus 2017 16:44 WIB | Kompas - Kompas

UMM dalam Berita Koran Online

Robot rakitan Tim Robot Universitas Muhammadiyah Malang yang menjadi juara satu dalam kontes robot di Amerika Serikat, Senin (10/4/2017)(KOMPAS.com / Andi Hartik)

MALANG, KOMPAS.com - Tim Robot Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  menjuarai kontes robot internasional dalam Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC) di Amerika Serikat.

Dalam kontes yang berlangsung selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu, (1-2/4/2017) itu, Tim Robot UMM berhasil mendapat dua gelar sekaligus. Yakni juara satu dan dua kategori walking atau robot berkaki.

Dosen Jurusan Elektro dan Informatika UMM, Muhammad Irfan mengatakan, Tim Robot UMM merupakan delegasi dari Indonesia setelah menjuarai kontes robot tingkat nasional pada tahun 2016 kategori robot berkaki.

"UMM mewakili Indonesia untuk divisi berkaki. Jadi yang dikirim oleh negara yang juaran nasional," katanya di Gedung Rektorat UMM, Malang, Senin (10/4/2017).

Ada sekitar 88 peserta dari sembilan negara yang andil dalam kontes itu. Menurut Irfan, Tim Robot dari China yang menjadi pesaing ketatnya.

"Lawan terberat tim dari China," katanya.

Tim Robot UMM sempat mengalami kendala saat proses registrasi. Panitia mengira tiga robot yang diikut sertakan merupakan robot hasil buatan pabrik. Padahal, robot - robot itu merupakan rakitan dari mahasiswa UMM.

"Sempat dicurigai, dikira bikinan pabrik," jelasnya.

Kedua robot yang menjadi juara itu diberi nama InaMu dan Unmu. Robot itu diprogram untuk mencari nyala api dan memadamkannya.

Ada sejumlah sensor yang dipakai untuk menjalankan robot itu secara otomatis. Seperti sensor jarak yang mampu mendeteksi benda untuk bermanuver di jalan. Sensor itu mampu mendeteksi benda sampai pada jarak tiga meter.

"Jadi untuk manuver dia jalan pakai sensor jarak," kata salah satu mahasiswa, Ikhlal Aldhi Wijaya.

Selain itu, robot itu juga dilengkapi dengan sensor uvtron fire detectionuntuk mencari titik api. Setelah ditemukan, sensor akan mengirim data untuk menghidupkan kipas angin dan mematikan api.

Robot pendeteksi api itu dibuat sejak Juni 2016 dengan nilai Rp 50 juta untuk satu unit robot.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2017/04/10/16070071/sempat.dikira.buatan.pabrik.robot.buatan.mahasiswa.umm.juara.di.amerika

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image