Cerita Malik Fadjar Saat Soeharto Merapuh di Ujung Orde Baru

Author : Administrator | Rabu, 09 September 2020 12:59 WIB | CNN - CNN

 

Jakarta, CNN Indonesia -- 

 

Abdul Malik Fadjar ikut dalam rombongan tokoh masyarakat yang bertemu Presiden ke-2 RI Soeharto di Istana Negara, Jakarta, 19 Mei 1998 silam. Ketika itu kekuasaan Soeharto sudah di ujung jurang. Lewat pertemuan tersebut Soeharto hendak menyampaikan gagasan dan mendengar masukan tokoh masyarakat di tengah krisis multidimensi.

Para tokoh yang hadir selain Malik, antara lain Nurcholish Madjid alias Cak Nur, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Ahmad Bagja, Ali Yafie, Anwar Harjono, Emha Ainun Nadjib, Ilyas Rukhiyat, Ma'ruf Amin, serta Soetrisno Muhdam.

Cak Nur meminta kepada Menteri Sekretaris Negara ketika itu Saadilah Mursyid untuk mengajak Yusril Ihza Mahendra. Malik menduga karena pembicaraan tak jauh dari masalah ketatanegaraan.

Dalam pertemuan tersebut, Soeharto lebih banyak berbicara dengan Cak Nur. Soeharto melempar ide pembentukan Komite Reformasi. Ia meminta Cak Nur menjadi ketua dan dirinya sebagai penasihat dalam dewan tersebut.

Namun, kata Malik, Cak Nur tak menimpali usul pembentukan Komite Reformasi. Tak lama setelah itu, Soeharto mengeluarkan sebuah teks yang disodorkan oleh Syaadilah.

"Waktu pembicaraan itu sudah menggambarkan Pak Harto itu sudah kehilangan, kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri, sudah loyo, kalau orang Jawa bilang, enggak berdaya lagi," kata Malik dalam peluncuran buku 'Habibie & Soeharto', Februari 2020 lalu.

Malik mengungkapkan bahwa Soeharto beberapa kali mencoret-coret, membetulkan redaksi teks tersebut. Soeharto, kata Malik, mengaku sudah tak ingin jadi presiden kepada para tamunya.

Yusril pun sempat menjelaskan bahwa jika presiden berhalangan menjalankan tugasnya, maka wakil presiden yang menggantikan.

Ketika itu, gelombang protes mendesak Soeharto turun terjadi di berbagai kota, termasuk Jakarta. Pada 12 Mei, mahasiswa melakukan aksi damai di Universitas Trisakti. Mereka menuntut perubahan dan berencana long march ke Gedung MPR/DPR, Senayan.

Namun, aparat mengadang. Para mahasiswa pun hanya berhasil sampai depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Mereka menggelar mimbar bebas hingga sore hari.

Saat hendak masuk dalam kampus lagi, aparat tiba-tiba menembak ke arah mahasiswa. Dalam insiden tersebut, empat mahasiswa Trisakti tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Peristiwa penembakan tersebut memicu gelombang protes yang lebih besar lagi. Namun, terjadi kerusuhan di Jakarta pada 13-15 Mei. Ribuan bangunan hangus terbakar.

Puncaknya, mahasiswa berhasil menduduki Gedung MPR/DPR pada 18 Mei. Hari itu juga, Ketua DPR Harmoko meminta Soeharto untuk mundur.

"Cak Nur nyeletuk aja, ya karena (Pak Harto) sudah tuo, kekenyangan. Begitu loh. Jadi begitu suasananya," ujar Malik.

Menurut Malik, para tamu yang lain diam, kecuali Ali Yafie yang mengatakan bahwa gerakan mahasiswa saat itu sebenarnya meminta Soeharto untuk turun. Tak lama, Soeharto meminta Wiranto, yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan masuk dalam ruangan.

Beberapa menteri juga hadir, namun berada di ruangan lain. Prabowo yang saat itu menjadi Panglima Kostrad juga berada di sekitar Istana. Bahkan, kata Malik, Prabowo menemui Cak Nur usai pertemuan tersebut.

"Jadi suasananya, yang di luar tegang, yang di dalam itu enggak dapat sesuatu," kata Malik.

Malik menyebut Soeharto sebetulnya tak ikhlas melepaskan jabatan presiden dan memberikan kepada Habibie. Menurutnya, yang diinginkan Soeharto adalah Habibie ikut mundur juga.

Pertemuan yang berlangsung sekitar 2 jam itu berlangsung alot. Sampai pada akhirnya Soeharto mengatakan bakal melakukan konferensi pers terkait rencana pembentukan Komite Reformasi dan meminta para tamu yang hadir berdiri di sampingnya.

"Nah di situ menggambarkan bahwa pak Harto tidak tulus untuk memberikan kewenangan (sebagai presiden)," ujar Malik.

Setelah pertemuan itu, Saadilah atas perintah Soeharto masih terus membujuk Cak Nur agar mau menjadi ketua Komite Reformasi lewat Malik. Namun, Cak Nur tetap menolak.

Kemudian pada malam 20 Mei, Yusril datang ke rumah Malik di Jalan Indramayu Nomor 14, Menteng. Yusril menyampaikan informasi bahwa Pak Harto akan mundur esok harinya.

Akhirnya, Pak Harto menyatakan mundur dan Habibie resmi menjabat sebagai presiden pada 21 Mei.

Orang Dekat Habibie

Malik merupakan salah satu orang dekat Habibie. Ia pun dipercaya menjabat sebagai menteri Agama oleh Habibie.

Malik mengaku berapa kali diajak makan siang oleh Habibie bersama Sofian Effendi dan Ahmad Watik Pratiknya. Saat makan, Habibie berbicara banyak hal, termasuk sosok Soeharto.

Menurut Malik, Habibie tak pernah bicara buruk tentang Soeharto. Habibie juga sangat menghormati Soeharto.

"Tidak pernah sepanjang yang saya ketahui, beliau bicara yang aneh-aneh, yang jelas beliau juga sebagai orang dekat, dianggap anak, dianggap murid, tetap menjalankan pemerintahan," kata Malik.

Selepas Soeharto turun takhta, ia tak pernah bertemu dengan Habibie. Bahkan dari pengakuan Habibie, Soeharto tak mengajaknya berbicara ketika akan mundur hingga akhirnya membacakan surat pengunduran diri.

Hubungan Soeharto dan Habibie menjadi dingin. Hanya sekali Habibie bisa berbicara lewat telepon ketika Soeharto ulang tahun. Sejak saat itu sampai Soeharto tutup usia 27 Januari 2008, Habibie tak bisa bertemu lagi.

Malik menuturkan bahwa Habibie sangat ingin bertemu dengan Soeharto. Saat itu, Habibie hendak menjenguk Soeharto yang terbaring di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta.

Habibie dan istrinya Ainun baru saja tiba dari Jerman sekitar pukul 21.00 WIB di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Saat itu Malik bersama Fuadi, Ahmad Watik, Muladi, dan Quraish Shihab ikut mendampingi Habibie.

"Pak Harto terbaring di rumah sakit. Jadi satu sisi Pak Habibie itu juga ada beban gitu loh ya, kalau belum bisa ketemu Pak Harto," ujar Malik.

Habibie dan Ainun langsung berangkat menuju RSPP. Namun, ia tetap tak bisa bertemu dengan Soeharto. Malik menyebut sebenarnya anak-anak Soeharto tak masalah Habibie bertemu dengan ayahnya, kecuali Titiek dan Mamiek Soeharto.

"Sampai akhir dari Jerman langsung (ke rumah sakit), di saat-saat menjelang sakratul maut, enggak bisa ketemu Pak Habibie (dengan Soeharto)," katanya.

Malik pun kini telah menyusul Soeharto dan Habibie. Malik meninggal dunia pada Senin (7/9) malam di rumah sakit.

Tokoh kelahiran 22 Februari 1939 itu sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional dalam kabinet Gotong Royong Presiden Megawati Soekarnoputri.

Malik merupakan tokoh Muhammadiyah. Ia tercatat pernah menjadi Dekan Fisip Universitas Muhammadiyah Malang, kemudian dilanjutkan menjadi rektor kampus tersebut.

Selain itu, Malik juga pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden periode 2015-2019.

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200909093415-32-544326/cerita-malik-fadjar-saat-soeharto-merapuh-di-ujung-orde-baru
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image


Shared: