Refleksi Awal Tahun UMM: Pancasila Sebagai Nilai Kehidupan

Author : Administrator | Senin, 22 Januari 2018 10:53 WIB | Berita Jatim - Berita Jatim

Malang(beritajatim.com) - Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme UMM (PUSAM UMM) menggelar kolokiumn atau seminar Pancasila dengan tema “Refleksi Awal Tahun : Pancasila sebagai Living Values”. Kolokium di gelar pada Senin, (22/1/2018) di Ruang Sidang Senat UMM.

Ada empat narasumber yang menjadi pembicara adalah Deputi Bidang Advokasi Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Widya Sasana Malang.

Prof. Dr. Rm. F.X. Eko Armada Riyanto, Program Officer Islam and Development Yayasan The Asia Foundation Dr. Budhy Munawar Rachman, serta akademisi dari Program Studi Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan Pascasarjana UMM Dr. Agustinus, M.Pd.

Deputi Bidang Advokasi UKP-PIP, Hariyono, memaparkan mengatakan Pancasila bukan hanya menjadi tanggung jawab aparatur negara, tetapi tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia. Tujuannya tidak lepas dari polemik sosial di Indonesia yang saat ini sering meneriakkan anti Pancasila.

 “Hal ini ditujukan agar Pancasila tidak lagi menjadi monopoli kebenaran dari sebuah rezim atau kekuasaan sebagaimana yang terjadi di masa lampau,” ujar Hariyono.

Narasumber lainnya Budhy Munawar Rachman memaparkan, saat ini Pancasila sudah dianggap sebagai kontrak sosial. Ia juga menjelaskan, pada titik tersebut Pancasila menjadi nilai bersama yang diwariskan para pendirinya. 

“Singkatnya dalam Pancasila ada 5 nilai, yakni nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah untuk demokrasi dan keadilan. Untuk menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam masyarakat dibutuhkan juga hubungan antar nilai yang satu dan yang lain, jadi nilai-nilai tersebut tidak berdiri sendiri,” paparnya.

Sedangkan, Eko Armada Riyanto memaparkan sejarah terbentuknya Pancasila. Menurutnya, cara masyarakat untuk  memahami bangsa adalah dengan cara memahami riset sejarah termasuk sejarah Pancasila. Ia juga menambahkan bahwa sikap diskriminatif yang sering terjadi saat ini dapat mencoreng narasi Pancasila itu sendiri.

“Ekslusifisme bukan hanya bertentangan dengan Pancasila akan tetapi juga bertentangan dengan kodrat dari bangsa,” tandasnya. (luc/ted)

Sumber: http://beritajatim.com/pendidikan_kesehatan/319342/refleksi_awal_tahun_umm:_pancasila_sebagai_nilai_kehidupan.html
Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image