Jurusan Sosiologi Industri (Sosin) FISIP UMM menghadirkan sosiolog UGM, Suharko Ph.D pada Kuliah Tamu bertema Developmentalisme dan Globalisasi dalam Prespektif Sosiologi, Senin (16/11) di Aula BAU. Dalam kuliah tamu itu mengemuka, bahwa globalisasi bukanlah suatu hal yang mudah untuk menerimanya dan semua negara harus bersiap diri untuk masuk dalam percaturan dunia global dan tidak bisa menolak. Langkah yang harus diambil adalah bersiap diri, memfilter informasi dan waspada terhadap dampak dari globalisasi, karena secara tidak sadar dampak itu telah ada disemua ranah kehidupan.
Suharko membahas tentang bagaimana kita memahami dan mengkritisi developmentalisme dan globalisasi ekonomi. Suharko mengartikan globalisasi adalah cairnya sekat-sekat untuk menjadi integrasi ekonomi secara global, semakin mendekatnya jarak, ruang dan waktu. “Dampak dari globalisasi sangat komplek ada dampak positif dan negatif, murahnya harga transportasi dan murahnya komunikasi mempercepat tumbuhnya globalisai di Indonesia,” tegas Suharko.
Pada sektor ekonomi, dimulai dari hal terkecil peniti sampai terbesar elektronik, di Indonesia itu semua adalah barang import. Dan yang sangat disayangkan sekarang ini pemerintah daerah berlomba-lomba untuk mengundang para investor asing untuk menanamkan modal di daerahnya. “Apakah masyarkat di tiap daerah itu siap mengahadapinya?” ungkap doktor lulusan Universitas Nagoya, Jepang bertanya.
Fondasi ekonomi Indonesia, menurutnya, masih rapuh. Setiap bayi yang hadir di muka bumi ini telah terbelit hutang. Pengetasan kemiskinan terhambat, tingkat pengangguran tinggi dan kesenjangan kesejahteraan masyarakat semakin lebar. “Perekonomian di Indonesia, dipengaruhi perekonomian global, tak hanya pemerintah sebagai aktor tetapi bank dunia ikut menenutkan perekonomian disuatu negara,” lanjutnya.
Dekan FISIP Dr. Wahyudi mengungkapkan, kita hidup di alam di mana kita terikat dalam globalisasi kita tidak bisa dihindari. Dari globalisasi akan melahirkan hegemoni, neo-liberalisasi dan neokultural.
Acara kuliah tamu tak hanya dihadiri oleh mahasiswa jurusan Sosiologi Industri, tetapi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi Se-Malang Raya. Memang, sejak tahun 1999 berdirinyya Jurusan Sosiologi Industri telah menjalin kerjasama dengan MGMP, mengawasi kurikulum yang ada di SMA dan selalu mengikut sertakan MGMP pada setiap kegiatan yang berguna menambah wacana bagi MGMP.
“Kami berharap jurusan Sosin mampu mempersiapkan penerus bangsa yang memahami dan masuk dalam globalisasi,” ungkap Ketua Jurusan Sosin, Dra. Tutik Sulityowati M.Si. Alumni Jurusan Sosiologi sebanyak 60% terserap pada sektor pendidikan, 20% sektor industri, 10% sektor jasa, 5% sektor penelitian dan 5% swasta imbuhnya. (hlw/t_ris)