Super Bowl: Antara Tradisi, Bisnis, dan Globalisasi

Author : Administrator | Tuesday, February 07, 2017 | -

Jurnalis : Jason Robert Kosasih

Super Bowl LI mempertemukan New England Patriots dan Atlanta Falcons. (REUTERS/Adrees Latif)

New York, CNN Indonesia -- Hari Minggu pertama bulan Februari selalu jadi hari yang tak biasa bagi penduduk Amerika Serikat kebanyakan. Termasuk di kota New York, tempat saya menempuh pendidikan saat ini. Kepadatan jalanan berkurang  karena saat itu mayoritas masyarakat Negeri Paman Sam terpaku di depan televisi, menyaksikan laga Super Bowl. 

Ya, pada hari Super Bowl, atau partai final NFL, hampir semua aktivitas terpusat pada acara ini, menunjukkan betapa besar daya tarik American Football bagi masyarakat AS. Bar-bar di seluruh kota dipenuhi bukan hanya oleh penggemar dari kedua tim, namun juga penggemar American Football secara umum.

Bisa dikatakan Super Bowl telah menjadi semacam tradisi bagi masyarakat AS. Lebih dari sekadar pertandingan olahraga, Super Bowl telah menjadi hiburan dengan acara jeda babak yang melibatkan musisi ternama. Salah satunya Lady Gaga yang mengisi acara hiburan jeda babak Super Bowl edisi ke-51 antara Atlanta Falcons melawan New England Patriots, Minggu (5/2) ini. 

Selain itu, berbagai iklan dari merek dan produk ternama serta cuplikan film-film layar lebar yang akan segera dirilis turut menghiasi siaran Super Bowl di layar kaca.

“Iklan-iklannya lain dari pada yang biasa saya tonton, apalagi banyak trailler film yang akan dirilis. Tapi, surprisingly, ada juga beberapa iklan berbau politik, misalnya ada iklan yang berpesan untuk saling toleransi antara satu sama lain. Mungkin ini dimaksudkan untuk kebijakan Presiden Amerika yang kontroversial belakangan ini ya.” ujar Amelia, mahasiswi salah satu universitas di New York.

Nuansa politik di beberapa iklan itu tak mempengaruhi kemeriahan Super Bowl kali ini. Berlangsung di Stadion NRG, Houston, Patriots yang tampil di Super Bowl ke-9 mereka, berhasil menundukkan Falcons 34-28 meski sempat tertinggal 19 angka di akhir babak pertama. Kemenangan dramatis Patriots ini sekaligus menjadi penutup rangkaian pertandingan NFL musim 2016.

Restoran dan tempat makan di Amerika Serikat ikut terlibat dalam keriuhan Super Bowl.
Restoran dan tempat makan di Amerika Serikat ikut terlibat dalam keriuhan Super Bowl. (Dok. Jason Robert Kosasih)

NFL dan Super Bowl: Bisnis Multi Miliaran Dolar

Bicara Super Bowl tentunya tidak lepas dari fakta bahwa NFL merupakan bisnis bernilai miliaran dolar. Salah satu faktor kunci di balik kesuksesan NFL adalah jumlah penonton, terutama mereka-mereka yang menyaksikan di depan layar kaca. 

Saking populernya, 10 acara olahraga dengan penonton terbanyak di tujuh bulan pertama 2016 adalah pertandingan NFL, sehingga tak heran jika stasiun televisi berlomba-lomba mengejar hak siar pertandingan. Total pendapatan NFL sebesar US$7,1 miliar pada 2016 pun sebagian besar berasal dari penjualan hak siar.

Tidak hanya NFL yang mendapat untung dari kepopuleran mereka di AS. Menjelang hari pertandingan, bisnis kecil dan menengah seperti bar dan rumah makan juga mengadakan berbagai promosi yang terkait Super Bowl, mulai dari cupcake dengan dekorasi kedua tim yang akan bertanding, menu dengan tema Super Bowl, maupun promosi US$1 untuk sepotong sayap ayam, makanan khas saat Super Bowl. 

Salah satu rumah makan bahkan memasang pengumuman agar pelanggan memesan chicken wings ataupun chicken tenders dari jauh-jauh hari. Alasannya? Rumah makan tersebut kehabisan ayam sebelum pertandingan dimulai!

Salah satu makanan yang sering dipesan penggemar saat Super Bowl adalah ayam goreng.
Salah satu makanan yang sering dipesan penggemar saat Super Bowl adalah ayam goreng. (Foto: Jason Robert Kosasih)


Membawa NFL Mengglobal

Popularitas Super Bowl dan NFL di Amerika Serikat bisa dikatakan hampir tak tersaingi, terutama dibandingkan dengan liga-liga olahraga lain di AS seperti baseball (MLB), basket (NBA), dan hoki es (NHL). Meski demikian, tren pada 2016 menunjukkan bahwa angka penonton NFL di AS menurun ketimbang tahun-tahun sebelumnya. 

Hal ini memaksa NFL coba melebarkan sayap ke negara-negara lain.

Salah satu inisiatif yang ditempuh NFL untuk memenuhi ambisi global mereka adalah dengan mengadakan pertandingan musim reguler di luar Amerika Serikat. Pertandingan bertajuk International Series ini diadakan di London secara rutin sejak tahun 2007. Tahun lalu, NFL juga menggelar pertandingan musim reguler di Stadion Azteca, Mexico City. NFL juga sempat dikabarkan tertarik menggelar pertandingan di Jerman, Brasil, dan China.

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut data Nielsen pada tahun 2015, jumlah penggemar NFL di Indonesia meningkat dari dua persen pada 2013 menjadi hampir enam persen pada 2015 yang berarti peningkatan sebesar lebih dari 3 juta penggemar. 

Salah satunya adalah Gabriella, mahasiswi asal Indonesia di salah satu universitas di New York. 

Ketika ditanyai alasan menonton NFL ia menjawab, “Kualitas dari pertandingannya sangat bagus, para pemainnya juga memiliki skill yang tinggi. Kombinasi antara hiburan dan olahraganya kena banget.” 

Untuk saat ini, basket adalah olahraga khas Amerika Serikat yang paling populer di penjuru dunia lain. Namun dengan keberadaan pemain-pemain kelas dunia serta strategi ekspansi global yang agresif, bukan tidak mungkin suatu hari NFL bisa menyaingi popularitas NBA di kancah internasional. (vws)

 
Harvested from: http://www.cnnindonesia.com/olahraga/20170207091840-178-191754/super-bowl-antara-tradisi-bisnis-dan-globalisasi/
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1