Prof Din Syamsuddin: Mari Benar-benar Ikhlas Ber-Muhammadiyah

Author : Pimpinan Pusat Muhammadiyah | Tuesday, July 16, 2013 16:15 WIB

Jakarta – Warga Muhammadiyah diharapkan benar-benar dapat ikhlas dalam melaksanakan aktifitas di Muhammadiyah, baik sebagai pengurus dalam semua tingkatan, maupun dalam kegiatan amal usaha. “Jangan sekali-kali warga Muhammadiyah kehilangan sifat ikhlas,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof.Dr.M.Din Syamsuddin,MA, saat membuka dan menjadi pembicara kunci dalam acara bertajuk: Etika Muhammadiyah: Spiritualitas Ihsan yang Berkemajuan dalam Perspektif Praksis,” di Kampus Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka (Uhamka) Pasar Rebo Jakarta Timur, Senin (15/7) sore.

Menurut Din Syamsuddin, pengalaman menunjukkan ada orang yang semula sangat bersemangat membangun amal usaha – sekolah, rumah sakit, masjid- namun begitu tidak terpilih jadi pengurus, bukan saja orang itu menyatakan keluar dari Muhammadiyah tapi juga amal usahanya juga ikut dibawa keluar. “Itu tanda bukan hanya ikhlasnya terpelanting tapi juga amalnya,” kata Din yang disambut tawa hadirin. Acara pengkajian Ramadhan 1434 H ini diikuti jajaran PP Muhammadiyah, sejumlah pimpinan pusat ortom dan amal usaha Muhammadiyah, serta Kepala BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) Prof.Dr.Fasli Jalal.

Prof Din sangat setuju pembahasan seputar Spiritualitas Ihsan yang Berkemajuan dalam Perspektif Praksis. Istilah praksis dipandang Din sebagai amal, produk dari kemampuan memadukan antara ide dan aksi. Amal tersebut memiliki nilai bilamana dilandasi keikhlasan.

Din Syamsuddin saat itu banyak mengulas seputar hablumminannas (hubungan sesama manusia) dan hablumminallah(hubungan manusia dengan Allah). Din mengingatkan, hablumminannas sesungguhnya adalah kebersamaan sejati yang harus ditunjukkan dengan kerjasama dalam membangkitkan dan memajukan umat Islam.

Hablumminannas, lanjut Din, harus menjadi proses timbal balik dengan hablumminallah sehingga  terjadi transformasi diri. Manakala hablumminannas tidak mewujudkan kerjasama sejati, tidak memajukan umat dan hanya untuk kepentingan diri sendiri, berarti hablumminallah tidak mengalami proses timbal balik yang melambungkan diri ke atas (Allah Swt). “Ini esensi yang sering dilupakan,” ucap Din, seraya menyebutkan dampaknya adalah masih terjadinya keterpurukan, kemiskinan umat. Kualitas manusia, pusat-pusat keunggulan, dan media massa dikuasai orang lain. “Kita baru menjadi pelengkap, penyerta,” ujar Din.

Dalam konteks hablumminallah, Din menyatakan, warga Muhammadiyah disebut-sebut menjalankan ibadah secara minimalis karena dinilai sedikit dalam wirid dan doa, serta hanya berjamaah dalam shalat lima waktu dan tarawih. Menurut Din penilaian itu kurang pas karena sebenarnya, Muhammadiyah dalam beribadah bukanlah minimalis melainkan proporsional. Wirid dan doa buat warga Muhammadiyah sangat dianjurkan diperbanyak namun secara individual dan semangatnya berdampak kolektif, sosial. Jadi, bukan sebaliknya berjamaah tapi berdampak hanya individual. “Warga Muhammadiyah tak usah risau, kita bukan minimalis tapi proporsional,” ucap Din, sambil menegaskan praktik ibadah Muhammadiyah menekankan pada penghayatan, pemaknaan nilai-nilai, keseimbangan dari apa yang diajarkan rasul Mumammad Saw.

Prof Din Syamsuddin mengingatkan pula, keber-agama-an kita hendaklah memunculkan akhlak. Amal ibadah yang banyak dilakukan seperti selama Ramadhan, hendaklah dapat melahirkan manusia yang kuat, paripurna, dan berakhlak. Nyatanya kini dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, akhlak itu masih terabaikan, belum muncul. Hal inilah yang perlu terus dikembangkan, dihayati dan dipelajari makna hablumminallah wa-hablumminannas yang menjadikan spiritualitas ihsan berkemajuan, berakhlak—jiwa yang dekat dengan Tuhan, Allah Swt.  “Akhlak itu pendalaman nilai-nilai yang berasal dari sifat-sifat Allah,” kata Prof Din yang dalam tausiyahnya banyak mengutip ayat-ayat al-Quran dan sunnah Rasul Saw.

Kegiatan Pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah, Senin malam (15/7) diawali dengan pembahasan tentang  “Aktualisasi Spiritualitas Ihsan dalam Kehidupan Politik & Pemerintahan.” Tampil sebagai pembicaraWakil Ketua MPR Drs. H.Hajriyanto Y.Thohari, MA, Dekan Fisip/dosen Pasca UIN Jakarta Prof. Dr. Bachtiar Effendy, dan pengamat politik dari LIPI Prof. Dr. Syamsuddin Haris, dengan moderator Fahman Habibie.

Selanjutnya acara Selasa (16/7) (08.30 – 12.00) membincangkan seputar “Aktualisasi Spiritualitas Ihsan dalam Kehidupan Sosial-Ekonomi” dengan menampilkanDr. H. Anwar Abbas dan MM, Dr. Hendri Saparini, dengan moderatorSyamsul Amri. Selanjutnya membahas“Aktualisasi Spiritualitas Ihsan dalam Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi” oleh H. Busyro Muqoddas, SH., M.Hum, Dr. H. Patrialis Akbar, SH, MH, Dr. Artidjo Al-Kostar, SH., LLM, dengan moderator: Amiruddin.

Selasa siang (13.30 -17.45) acara menampilkan Prof. Dr. HA. Syafii Maarif, MA, Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si, Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, dan  Faozan Amar, MM (moderator) dengan topik “Aktualisasi Spiritualitas Islam dalam Kemajemukan Kehidupan Bermasyarakat & Beragama.” Prof. Dr. Hj. Masyitoh Chusnan, Prof. Dr. H. Suyatno, M.Ed, dan Annisia Kumala (moderator) membahas “Aktualisasi Spiritualitas Islam dalam Keluarga dan Pendidikan.” Selanjutnya H. Soetrisno Bachir membincangkan seputar “Aktualisasi Spiritualitas Ihsan dalam Kehidupan Sosial-Ekonomi.” Malam harinya, pembahasan tentang“Aktualisasi Spiritualitas Islam dalam Pengembangan Seni & Budaya” dengan pembicaraProf. Dr. Abdul Hadi WM, Helvy Tiana Rosa,Musik Sufi – DEBU, dan Nuryadi Wijiharjono (moderator). (uy)

 
Shared:
Shared:
1