Tolak Serahkan Data WhatsApp, Petinggi Facebook Ditangkap di Brazil

Author : Administrator | Wednesday, March 02, 2016 09:39 WIB
Diego Dzodan, Wakil Direktur Perusahaan Media Sosial Facebook di Amerika Latin.

 

SAO PAULO, KOMPAS.com - Aparat kepolisian Brazil menangkap Diego Dzodan, Wakil Direktur Perusahaan Media Sosial Facebook di Amerika Latin.

Penyebabnya adalah, Dzodan yang berkewarganegaraan Argentina, dituduh menolak mematuhi perintah pengadilan untuk menyerahkan data yang akan digunakan dalam penyelidikan polisi atas perdagangan narkotika.

Seperti dilansir BBC, penahanan ini terkait dengan layanan percakapan WhatsApp yang perusahannya juga dimiliki Facebook.

Dalam sebuah pernyataan, Facebook mengatakan penahanan Dzodan -atas perintah hakim negara bagian Serpie, Brasil timur laut- sebagai langkah ekstrem dan berlebihan. PIhak Facebook pun mengaku kecewa dengan penahanan ini.

"(Padahal) Facebook selalu dan akan menyediakan diri untuk menjawab setiap pertanyaan dari Pemerintah Brasil," demikian pernyataan resmi perusahaan tersebut.

Diberitakan the Guardian, pihak Facebook sempat mengungkapkan, meskipun WhatsApp telah diakuisisi oleh Facebook 2014, namun layanan WhatsApp merupakan layanan independen dan terpisah dari Facebook.

WhatsApp di Brazil pun tak memiliki perwakilan. Kendati demikian, WhatsApp beroperasi tidak berada di bawah tanggung jawab Dzodan.

Lebih dari itu, sebagai perusahaan jasa layanan messaging, WhatsApp tidak menyimpan data pelanggan. Sehingga data yang diminta oleh pengadilan di Brazil memang tidak dapat disediakan. 

Dzodan meninggalkan rumahnya di kawasan eksklusif di Sao Paulo, Brazil, pada Selasa (1/3/2016) pagi waktu setempat. Kemudian dia ditangkap saat berada di Bandara Garulhos.

Disebutkan, dalam dua kesempatan sebelumnya, hakim Marcel Maia Montalvao mengeluarkan hukuman denda terhadap Facebook karena menolak membuka data WhatsApp.

Informasi tersebut, menurut Montalvao, diperlukan sebagai bagian penyelidikan hukum rahasia yang melibatkan perdagangan narkotika dan kejahatan terorganisasi.

Kasus ini bukan kali pertama bagi WhatsApp, yang selama ini menjadi aplikasi paling populer di Brazil dalam dua tahun terakhir, dan digunakan oleh lebih dari 200 juta orang di sana.  

Desember tahun lalu, hakim di Brazil menutup WhatsApp selama 48 jam karena dianggap gagal memenuhi perintah pengadilan untuk membagi informasi dalam kasus kriminal.

Harvested from: http://internasional.kompas.com/
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1