Ramadhan di Inggris, Mulai Mukena Hitam hingga Ateis Berpuasa

Author : Administrator | Saturday, June 27, 2015 09:49 WIB
Salah satu kegiatan umat Muslim di London adalah menggelar ajang Ramadhan Tent Project yaitu buka puasa bersama di ruang terbuka publik dan dihadiri banyak orang termasuk warga non-Muslim.

LONDON, KOMPAS.com - Bulan Ramadhan tak ada bedanya dengan bulan-bulan lain di berbagai negara Eropa. Maklum hanya 13 juta warganya Benua Biru yang menganut Islam dan menjalankan ibadah puasa. Di Inggris, di antara ramainya pemberitaan terkait praktik rasisme dan Islamophobia, berbagai kalangan Muslim memanfaatkan Ramadhan dalam upaya ‘memperkenalkan diri’ dengan lingkungannya.

Sekelompok mahasiswa dan relawan menggelar acara buka bersama sepanjang bulan di London. Ajang Ramadhan Tent Project digagas sekelompok alumni SOAS (School of Oriental and African Studies) tiga tahun lalu dan kini diselenggarakan tiap tahun. Panitia mendirikan tenda kecil dan menggelar tikar di sebuah taman di Malet Street, London serta mengundang siapa saja untuk datang dan ikut buka puasa.

Di antara para ‘undangan’ terdapat para gelandangan, mahasiswa, pejalan kaki, dan juga warga non-Muslim yang datang sekadar karena ingin tahu dan tertarik ikut berbuka puasa. Dalam acara itu tersedia air minum dalam botol, kurma, pisang dan beberapa butir apel saat penulis hadir di pekan pertama puasa.

Seperti di tanah air, acara buka bersama juga umum diselenggarakan di masjid dan mushala di Inggris. Sebagian datang membawa bekal makanan dan minuman untuk dinikmati bersama, sebagian lagi datang untuk menemukan teman sesama jamaah yang berpuasa lalu berbuka bersama.

“Saya kesini sengaja mencari saudara sesama Muslim, Iftar (buka puasa) rasanya paling nikmat kalau bersama-sama”, kata Fatima Ali yang sudah 14 tahun menetap di London.

Bersama empat anaknya Fatima membawa kue, ayam goreng dan jus mangga lengkap dengan gelas plastiknya ke masjid kantor pusat Muslim World League di London. Fatima dan anak-anaknya tidak nampak berasal dari kalangan berada, tetapi dia mengaku sudah melakukan aktivitas ini selama bertahun-tahun. Dengan suka rela keluarganya menyisihkan waktu dan uang untuk memberi makan orang yang berpuasa.

“Sebelum kesini saya mampir dulu ke dapur masjid dekat tempat saya tinggal, saya bantu masak untuk buka puasa juga,” tambahnya sambil meminta supaya penulis makan lebih banyak hidangan yang dibawanya.

Harvested from: internasional.kompas.com
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1