Orangtua Korban Serangan Benghazi Tuntut Hillary Clinton Bertanggung Jawab

Author : Administrator | Wednesday, August 10, 2016 09:25 WIB

The Independent/Getty

Hillary Clinton sepanjang masa kampanye keprisidenan tahun 2016 menjadi sorotan terkait serangan di Benghazi, Libya timur pada tahun 2012.
 

 

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Orangtua dari dua korban serangan brutal di Benghazi, Libya timur, menuntut calon Presiden AS Hillary Clinton atas kematian tanak mereka dalam insiden itu.

Harian The Independent,  Selasa (9/8/2016), melaporkam, orangtua yang berduka akibat serangan pada tahun 2012 di Benghazi telah mengajukan gugatan terhadap Hillary.

Mereka melihat adanya hubungan antara tragedi dan surar elektronik (e-mail) pribadi kandidat dari Partai Demokrat itu, yang selama ini memang telah menjadi salah satu bahan pergunjingan di AS.

Kandiat presiden dari Partai Republik, Donald Trump, juga telah berulangkali menyoroti serangan di Benghazi itu dengan e-mailpribadi Hillary. Pengaduan emosional atas Hillary awalnya disampaikan oleh Patricia Smith, salah satu orangtua, pada konvensi Partai Republik tiga minggu lalu.

Orangtua yang lain, Charles Woods, mengajukan gugatan dengan menggunakan laporan terbaru FBI dengan menyalahkan mantan Menlu AS itu. Patricia Smith dan Charles Wood adalah orangtua dari Sean Smith dan Tyrone Woods. Mereka mengajukan tuntutan terhadap Hillary atas dugaan kematian yang tidak benar dan fitnah. Lewat tuntutannya, Smith dan Wood mengatakan, salah satu penyebab kematian anak mereka ialah karena Hillary menggunakan layanan e-mail pribadi.

Menurut BBC,  tuntutan tersebut diajukan kelompok konservatif,Freedom Watch, yang mewakili para orangtua korban. Kedua orangtua tersebut juga menuduh Hillary memfitnah mereka lewat sejumlah pernyataannya di media massa.

Kelompok militan menyerang kantor konsulat AS pada tahun 2012 di Benghazi. Akibatnya empat warga AS tewas, termasuk Duta Besar Chris Stevens, saat Clinton menjabat Menlu AS.

Meskipun DPR AS, Clinton tidak melakukan kesalahan pada permulaan tahun. Masalah ini terus muncul selama kampanye kepresidenannya.

Editor : Pascal S Bin Saju
 
Harvested from: http://internasional.kompas.com/
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1