Negara-negara G8 Kecam Keras Provokasi Korut

Author : Administrator | Friday, April 12, 2013 13:27 WIB
Menteri Luar Negeri Inggris William Hague (REUTERSAlastair Grant/Pool)

London - Negara-negara maju dunia yang tergabung dalam G8 mengecam keras ancaman Korea Utara terhadap stabilitas kawasan dan perdamaian dunia. Mereka juga mendesak pemerintah Korut untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir.

Hal ini disepakati dalam pertemuan Menteri Luar negeri G8 di London, Kamis waktu setempat.  Negara-negara anggota G8 adalah Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Jepang, Rusia, Italia, Jerman, dan Inggris.

Diberitakan Reuters, dalam komunike usai pertemuan, disepakati bahwa G8 mengecam provokasi Korut. Namun, tidak disepakati adanya langkah konkrit untuk mengatasi ancaman pemerintahan Kim Jong-un.

"Jika Korut melakukan peluncuran rudal atau uji nuklir, kami baru akan berkomitmen melakukan langkah-langkah yang signifikan," kata Menlu Inggris William Hague.

Seorang pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, para menlu juga membahas peran China dalam meredam ancaman Korut. Selama ini, China yang merupakan sekutu dekat dan mitra dagang utama Korut telah membantu Barat dalam mengendalikan negara bentukan Kim Il-sung itu.

Hal yang sama juga disampaikan Presiden Barack Obama dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon di Gedung Putih kemarin. Keduanya menyerukan China dan negara lain yang berpengaruh bagi Korut untuk membantu mengurangi ketegangan di Semenanjung Korea.

Isu Suriah Mandek

Selain membicarakan Korut, pertemuan G8 juga mengetengahkan isu kekerasan di Suriah. Namun, para Menlu tidak menghasilkan kesepakatan apapun dalam masalah ini. Perpecahan di tubuh G8 soal Suriah adalah buah dari kemandekan serupa di Dewan Keamanan PBB, saat Rusia dan China mengeluarkan veto terhadap setiap resolusi Suriah.

"Dewan Keamanan PBB tidak memenuhi tanggungjawabnya karena terpecah belah. Perpecahan masih terjadi. Apakah kita mengatasi perpecahan itu dalam pertemuan ini? Tidak," kata Hague.

Telah lebih dari 70.000 orang tewas di Suriah sejak revolusi pecah dua tahun lalu. Kebanyakan korban adalah warga sipil, wanita dan anak-anak. Presiden Suriah Bashar al-Assad masih bergeming dari posisinya dan menurunkan lebih banyak pasukan untuk menggempur oposisi.

Harvested from: http://dunia.news.viva.co.id
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1