Krisis Ekonomi, Warga Zimbabwe Bermalam Depan Bank

Author : Administrator | Thursday, November 10, 2016 06:07 WIB

Warga Zimbabwe bermalam depan bank, mengantri untuk dapatkan Rp655 ribu. (Foto: BBC)

Jurnalis : Silviana Dharma

 

HARARE – Krisis ekonomi di Zimbabwe semakin menggerogoti sendi-sendi kehidupan rakyat. Dalam cuaca dingin menggigit pada tengah malam di ibu kota Harare, puluhan orang terlihat tergeletak berjajaran di depan suatu bank.

Mereka bukan para gelandangan. Orang-orang itu juga masih bernafas, sehat bugar. Beberapa dari mereka berprofesi sebagai pedagang, petugas keamanan, akuntan, bahkan ada yang seorang psikolog.

Bank yang ditunggui tentu saja sudah tutup. Sebab bank-bank di Zimbabwe seperti halnya bank-bank di belahan dunia lain, hanya buka dari pukul 08.00 – 15.00 pada Senin-Jumat dan pukul 08.00 – 11.30 pada Sabtu. Hari Minggu, semua bank tutup.

Akan tetapi, sedikitnya 30 orang bersikeras bermalam di depan bank tersebut. Mereka yang antri terdiri dari laki-laki dan perempuan. Ada juga yang mengajak anaknya ikut menginap. Selain itu, mereka membawa selimut untuk alas dan menghalau cuaca dan serangga yang tak kenal ampun. Semua mengantri untuk sesuatu, yakni uang.

“Kami terpaksa tidur di sini karena jika tidak, Anda tidak akan mendapatkan uang. Saya sudah mencoba datang ke sini pukul 04.00 tetapi hanya buang-buang waktu. Hanya mereka yang berada di baris pertama yang bisa mendapatkan uang. Bank membatasi persedian uang yang diberikan,” tutur seorang ibu yang menolak disebut namanya, seperti dikutip dari BBC, Kamis (10/11/2016).

Di samping dia, putrinya yang berumur tujuh tahun sudah tertidur pulas. Harapannya terletak pada secuil kertas hijau bertuliskan angka 10. Nomor itu menandai urutan mengantrinya. Sementara di belakangnya, masih banyak lagi yang menunggu.

Nomor-nomor itu sendiri dibagikan oleh sekelompok pemuda pengangguran. Mereka berdiri di depan bank setiap tengah malam dan dalam sekejap saja mereka bisa mengeluarkan hingga 200 nomor urut.

Meski begitu, tidak semua orang yang mengambil nomor urut bersedia menanggalkan harga dirinya dan mengantri seperti gelandangan di depan bank. Bagi mereka yang tidak ingin bermalam, tetapi tetap ingin mengambil uang dari bank, bisa mengupah seorang joki sebagai gantinya.

Salah satu joki itu bernama Muchekadzafa. Dia menyimpan beberapa nomor urut lalu menjualnya lagi kepada mereka yang tidak ingin menginap. Tarif antrian yang dititipkan padanya senilai USD1 atau Rp13.111,71 per orang.

“Ini satu-satunya peluang bagi kami untuk bertahan hidup. Kami tidak punya pekerjaan di sini,” ujarnya.

Sehari sebelumnya, 165 orang sudah mendapatkan uang dari bank. Mereka yang kurang beruntung terpaksa pulang untuk kembali mengantri dari awal keesokan harinya. Semua orang berebut mendapat posisi pertama, demi mencairkan uang mereka . Setiap orang dibatasi hanya dapat mengambil USD50 atau Rp655 ribu per harinya.

Harvested from: http://news.okezone.com/read/2016/11/10/18/1537672/krisis-ekonomi-warga-zimbabwe-bermalam-depan-bank
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1