Author : Administrator | Monday, June 01, 2015 10:11 WIB
Kelompok pro pemerintah Yaman kesulitan menghadapi gempuran pemberontak Huthi.

ADEN, KOMPAS.com - Sebuah kapal PBB yang sedang menuju Yaman dan sarat dengan bantuan kemanusiaan menjadi sasaran penembakan ketika mendekati Aden, kota pelabutan utama di selatan negara itu  Minggu (31/5/2015), kata seorang pejabat.

Seorang pejabat provinsi, yang berbicara dengan syarat anonim, menyalahkan kaum pemberontak Syiah-Huthi yang menguasai beberapa lokasi di kota kedua terbesar di Yaman atas peristiwa itu karena kelompok itu tidak mengizinkan kapal tersebut berlabuh di pelabuhan Aden, yang dikendalikan kelompok pro-pemerintah.

"Kelompok Huthi menembakkan peluru ke sebuah kapal yang disewa PBB yang membawa 7.000 ton bahan makanan saat kapal berada dalam jarak satu mil laut dari pelabuhan Aden," kata pejabat tersebut. Dia menambahkan, kapal itu tidak terkena tembakan. "Kapal itu terpaksa balik dan saat malam kapal tersebut berada sekitar lima hingga delapan mil laut dari Aden," tambahnya.

Menurut pejabat tersebut, kapal itu berangkat dari Djibouti, yang digunakan PBB sebagai sebuah pusat bantuan kemanusiaan menuju ke Yaman.

Insiden tersebut telah dikonfirmasi seorang pejabat pelabuhan, yang juga menolak untuk diidentifikasi. "Tembakan kelompok Huthi memaksa kapal itu berbalik saat mendekati pelabuhan," kata pejabat pelabuhan tersebut.

Dia menuduh para pemberontak "menerapkan blokade makanan terhadap sejumlah di wilayah Aden yang berada di bawah kendali Komite Perlawanan Rakyat", yang merupakan kumpulan para petempur pro-pemerintah, suku-suku Sunni dan kaum separatis selatan.

Arab Saudi telah memimpin serangan udara ke Yaman sejak 26 Maret lalu guna menyasar posisi kelompok pemberontak Syiah-Huthi yang didukung Iran dan pasukan yang setia kepada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh. Aksi Saudi dan sejumlah negara Teluk itu dalam upaya untuk memulihkan kekuasaan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi yang didukung PBB.

Konflik Yaman telah menewaskan hampir 2.000 orang dan melukai 8.000 orang lainnya, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Harvested from: http://internasional.kompas.com
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1