Gara-Gara Israel, Konflik Suriah Berpotensi Meluas

Author : Administrator | Wednesday, May 08, 2013 09:12 WIB

REUTERS/Baz Ratner/zn
 
 

Metrotvnews.com, Beirut: Serangan udara Israel ke wilayah Suriah akhir pekan lalu akan menjadi pemicu meluasnya konflik terbuka di Timur Tengah. Itu adalah serangan militer ketiga yang dilakukan Israel ke kawasan Suriah selama tahun ini.

"Kita sangat dekat dengan hal tersebut," kata Timur Goksel, seorang dosen dari Beirut, Libanon yang pernah bertugas untuk misi perdamaian PBB di kawasan selatan negeri tersebut.

Goksel menilai Suriah akan membalas serangan Israel. Di samping itu, lanjutnya kelompok militan Syiah, Hizbullah, pun akan semakin turun dalam perang tersebut.

Pemerintahan Rezim Bashar Al Assad di Suriah menyatakan serangan udara Israel itu juga telah menewaskan banyak rakyat sipil di daerah tersebut. Aktivis lokal menyatakan serangan Israel akhir pekan lalu ke kawasan di pinggir kota Damaskus telah menewaskan sekitar 42 tentara Suriah dan 100 lagi masih dinyatakan hilang.

Di sisi lain, Israel mengklaim serangan ke dekat kota Damaskus itu bukan ditujukan untuk memanaskan perang sipil yang sedang terjadi di Suriah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang berada di China awal pekan ini mengatakan itu sebagai 'bisnis yang biasa' untuk mencegah Hizbullah.

Perbuatan Israel itu mengundang kecaman dari berbagai pihak. Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan mengutuk serangan Israel ke dekat kawasan Damaskus itu sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.

"Tidak ada alasan rasional, tidak ada alasan yang dapat memaafkan operasi ini," kata pemimpin negara anggota NATO itu kepada parlemen Turki.

Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Salehi memperingatkan Israel agar tidak bemain dengan api. Pemimpin agung Iran Ayatollah Ali Khamenei menggarisbawahi tindakan Israel itu akan meningkatkan konflik sektarian yang sedang terjadi di Suriah.

Sedangkan Rusia--yang merupakan sekutu Assad--mengkhawatirkan intervensi militer asing akan semakin bertambah dan memperburuk konflik sipil yang telah memakan korban jiwa lebih dari 70 ribu orang itu. (Reuters/CS Monitor/Fars/Dika Dania Kardi)


Editor: Irvan Sihombing

 

 

sumber : metrotvnews

Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1