Data Intelijen Beratkan Pembebasan Mahasiswa Indonesia di Turki

Author : Administrator | Friday, September 30, 2016 06:02 WIB

Dirjen PWNI-BHI, Lalu Muhammad Iqbal. (Foto: Silviana Dharma/Okezone)

JAKARTA – Tahun ajaran baru di Turki telah dimulai pada 19 September lalu. Namun Handika Lintang Saputra, warga negara Indonesia (WNI) yang menempuh pendidikan tinggi di Gaziantep, Turki belum kembali ke bangku perkuliahan.

Benar bahwa beasiswa pasiadnya dicabut dan tak ada lagi biaya untuk meneruskan kuliah. Namun lebih dari itu, kealpaan pemuda Wonosobo ini karena dia masih terkungkung di balik jeruji besi bersama tahanan politik Turki lainnya.

Handika pada dasarnya bukan lah satu-satunya WNI mahasiswa yang ditahan aparat keamanan Turki karena dicurigai terlibat organisasi Fethullah Gulen. Setelah dia ada tiga mahasiswa lain.

Dwi Puspita Ari Wijayanti dan Yumelda Ulan Afrilian diciduk di asramanya di Bursa pada 11 Agustus. Sementara seorang lagi bernama Syaiful Iman ditangkap di Ankara pada 26 Agustus. Ketiganya telah dibebaskan sebulan lalu. Sementara upaya pembebasan Handika yang telah lebih dulu ditangkap terkesan berlarut-larut.

Dalam obrolan santai dengan Okezone kemarin, Kamis 29 September di Workroom Coffee, Cikini, Jakarta Pusat, Dirjen PWNI-BHI Kementerian Luar Negeri RI, Lalu Muhammad Iqbal mengungkap permasalahan Handika memang lebih pelik dari ketiga WNI mahasiswa yang tertangkap di Turki lainnya. Pemerintah mengakui ada keterlambatan pengurusan terhadap kasusnya sehingga dia belum dibebaskan.

Hal senada pernah diungkapkan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki, Azwir Nazar beberapa waktu lalu. Ketiga WNI lain cepat bebas, karena pemerintah lekas bertindak dan mengambil mereka sebelum berkasnya diurus ke pengadilan. Untuk kasus Handika, memang lokasinya yang 700 kilometer jauhnya atau 14 jam perjalanan bolak balik dari Ankara menyulitkan pengiriman informasi tersebut tepat waktu ke Kedutaan Besar RI di Turki.

Namun demikian, Iqbal menerangkan keterlambatan informasi soal penangkapannya di Gaziantep bukan satu-satunya alasan yang memberatkan pembebasan Handika.Perlu diketahui, kudeta militer di Turki terjadi pada 15 Juli 2016. Handika tertangkap sebelum kudeta meletus di Ankara dan Istanbul.

“Dia (Handika) susah dipulangkan karena ada bukti-bukti dari aparat hukum yang memberatkan dia. Tapi sekarang belum bisa kami buka, nanti kalau sudah kelar proses hukumnya baru kami kasih tahu,” ujarnya.

Ditanya perihal salah satu buktinya berasal dari ponsel yang bersangkutan, Iqbal tidak menampik. Berdasarkan informasi yang dihimpun Okezone dari narasumber terpercaya, Handika selayaknya penerima beasiswa Pasiad lain tinggal di asrama rumah yang dikelola oleh Fetho.

Setiap asrama rumah yang dihuni para mahasiswa penerima beasiswa pasiad mancanegara diwajibkan memiliki satu imam rumah. Tugas imam rumah ini, antara lain mengatur jadwal piket belanja, masak, mencuci hingga bersih-bersih asrama. Dalam hal ini, Handika ditunjuk menjadi imam rumah di Gaziantep. Sebagai imam rumah, dia tergabung dalam satu grup Whatsapp khusus imam rumah dari seluruh penjuru Turki. Tergabungnya Handika dalam grup wicara berbasis aplikasi di telefon pintar itulah yang disebut-sebut jadi salah satu bukti yang memberatkan pelepasannya.

“Jadi awalnya ada data intelijen yang didapat aparat. Asrama rumah tempat Handika digerebek dan dia saat itu ada di dalamnya ikut dibawa. Bukti intelijen tersebut saat ini sudah masuk ke pengadilan, sehingga kita hanya bisa menunggu proses hukumnya berjalan,” terang Iqbal.

Meski begitu, ia menambahkan, “KBRI Ankara saat ini sudah mendapatkan akses kekonsuleran. Sehingga staf kita di sana secara reguler bisa menjenguk Handika di penjaranya. Tidak lupa, kami juga terus berkoordinasi dengan pengacaranya untuk menjamin hak hukumnya terpenuhi. Intinya, kita punya hak memberi pembelaan, jadi nanti kami pasti akan tetap mengupayakan pembebasan dia.”

(Sil)

 

 

 


Harvested from: http://news.okezone.com/read/2016/09/30/18/1502487/data-intelijen-beratkan-pembebasan-mahasiswa-indonesia-di-turki?page=1
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1