China Akui Menembak Kapal Vietnam

Author : Administrator | Thursday, March 28, 2013 09:14 WIB
Kapal patroli pengawas kelautan China berlayar di perairan dekat kepulauan sengketa di Laut China Timur

BEIJING -- Pemerintah China membenarkan bahwa kapal angkatan lautnya dua kali menembakkan peluru suar (flare) ke arah empat kapal motor nelayan dari Vietnam.

Hal itu dilakukan setelah kapal-kapal nelayan Vietnam tersebut tidak mengindahkan sejumlah peringatan yang disampaikan dalam beberapa bentuk oleh kapal AL China itu.

Menurut Kementerian Pertahanan China, Rabu (27/3), langkah pengusiran dilakukan lantaran keempat kapal nelayan Vietnam itu dianggap telah melanggar wilayah perairan China dan mencari ikan secara ilegal di sana.

Sebelum tembakan dua peluru suar dilepaskan, kata juru bicara AL China yang tak mau disebut namanya, mereka telah memberi beberapa kali isyarat, seperti peluit, teriakan, dan bendera, agar kapal-kapal nelayan Vietnam segera pergi.

”Akan tetapi, klaim tembakan (peluru suar) China telah memicu kebakaran jelas-jelas palsu dan karangan mereka saja,” ucap juru bicara AL China itu.

Tembakan peluru suar itu diklaim tidak sampai mengenai dan membakar kapal-kapal nelayan Vietnam lantaran apinya sudah habis terbakar di udara tak lama setelah ditembakkan.

Insiden tersebut dikabarkan terjadi 20 Maret lalu di perairan sekitar Kepulauan Paracel, yang hingga sekarang masih jadi titik panas sengketa sejumlah negara, termasuk Filipina, Malaysia, dan Brunei.

Pemerintah Vietnam dikabarkan telah mengajukan protes keras. Mereka meminta Beijing mengganti kerugian sekaligus menghukum aparatnya yang terlibat dalam penembakan tersebut.

Selain semakin meningkatkan kekuatan dan alokasi anggaran belanja pertahanannya, China akhir-akhir ini terbilang agresif di kawasan Laut China Selatan, yang sebagian besar mereka klaim sebagai wilayahnya.

China semakin kerap menggerakkan kapal-kapal pemantauan sipil dan nelayannya di kawasan perairan sengketa demi menunjukkan kehadiran mereka di sana.

Kapal-kapal AL China juga sering terlihat di Laut China Selatan walau sampai sekarang mereka tetap terkesan menjaga jarak untuk tak masuk ke wilayah sengketa demi menghindari peningkatan ketegangan.

Latihan militer

Sementara itu, di tengah ketegangan yang terus terjadi, AL China menggelar latihan pendaratan militer di kawasan sengketa, termasuk pendaratan pesawat dan tank-tank amfibi di Kepulauan Spratly sejak Sabtu.

Dalam latihan perang kali ini, AL China juga melayari kawasan perairan sengketa jauh di selatan, yakni ke Beting James, Selasa. Hal itu dikabarkan kantor berita Xinhua.

Para pelaut yang terlibat dalam latihan itu menggelar upacara di atas kapal amfibi AL China, Jinggangshan, tak jauh dari gugusan karang yang mencuat di permukaan laut.

Gugusan karang itu berada sekitar 80 kilometer lepas pantai Malaysia dan sekitar 1.800 kilometer dari lepas pantai daratan China. Tahun 2010, China membangun sebuah monumen untuk menetapkan wilayah itu sebagai wilayah kedaulatannya.

Dalam upacara yang digelar di atas landasan pendaratan helikopter kapal amfibi AL China itu, para pelaut membacakan pernyataan loyalitas mereka ke Partai Komunis China dan berikrar mewujudkan mimpi membangun negeri yang kuat.

Manuver China itu, menurut pakar hubungan internasional Universitas Peking, Zhu Feng, dinilai sangat penting sebagai deklarasi simbolis kedaulatan China sekaligus untuk menunjukkan keteguhan negeri itu mempertahankan klaimnya di sana.

”Operasi AL China kali ini dapat dilihat sebagai sebuah indikasi kuat keinginan negeri itu menyelesaikan masalah sengketa di sana sekaligus sebagai kelanjutan pendirian China,” tutur Zhu.

Harvested from: http://internasional.kompas.com/
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1