By: Muhammad Zulfikar Akbar
(Student Universitas Muhammadiyah Malang)Saya turut prihatin dengan banjir yang melanda Ibu Kota Negara kita
saat ini. Betapa tidak, Jakarta bak kolam raksasa sejak tanggul
Latuharhary jebol dan mengakibatkan ruas jalan protokol terendam banjir,
bahkan sampai bundaran Hotel Indonesia.
Ironis memang, padahal Jakarta merupakan Ibu Kota Negara, pusat
bisnis, juga pusat pemerintahan, pasti selalu diperhatikan juga oleh
negara lain. Mendangkalnya sungai Ciliwung, banyaknya pemukiman liar di
bantaran kali, dan persoalan irigasi, juga berkurangnya daerah resapan
air merupakan beberapa masalah yang mengakibatkan banjir dengan siklus 5
tahunan ini semakin menjadi.Apakah kita ingin melihat Ibu Kota kita
terus-terusan menjadi ‘Kolam’? Tentu saja tidak. Presiden pun bahkan
sudah mengemukakan salahsatu solusinya untuk memindahkan pusat
pemerintahan.
Sekitar 2010 lalu, Presiden sudah mengemukakan pendapatnya untuk
memindahkan pusat pemerintahan. Dan kali ini, wacana itu mencuat
kembali. Saya menganalisis, jika benar pusat pemerintahan ataupun Ibu
Kotanya ingin dipindah, maka saya menyebut Palangkaraya tempat yang
paling tepat.
Ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah ini berposisi tepat di
tengah-tengah Negara Indonesia. Hal ini cukup menguntungkan karena semua
urusan negara nantinya akan terpusat disana. Kemudian relatif aman dari
gempa bumi dan gunung berapi. Kalimantan sendiri merupakan satu-satunya
pulau yang tidak dilewati oleh jalur lempengan kerak bumi dan tidak ada
gunung berapinya. Sehingga aman dari namanya gempa bumi dan gunung
meletus. Analisis saya yang terakhir, perpindahan pusat pemerintahan
ataupun Ibu Kota nantinya akan memacu timbulnya Transmigrasi dari Pulau
Jawa ke Kalimantan. Dengan demikian, jumlah penduduk tidak lagi terpusat
di Jawa yang 60% seluruh populasi rakyat Indonesia ada di pulau
tersebut, melainkan akan menyebar di Kalimantan yang relatif lebih
tenang.
Pemerintah Pusat tidak perlu takut akan adanya Pro dan Kontra dari
keputusan ini. Sejak jaman kemerdekaan pun Indonesia sudah berkali-kali
memindahkan pusat pemerintahannya. Ketika Jakarta waktu itu dikepung dan
dikuasai oleh Belanda, Presiden Soekarno memindahkannya ke Yogyakarta.
Kemudian dipindahkan lagi di Bukit Tinggi. Bahkan, Soekarno sudah
mempersiapkan pusat pemerintahan darurat waktu itu di India, agar
Indonesia masih tetap ada, walaupun akhirnya Jakarta kembali ke tangan
Indonesia.
Sekarang waktunya pemerintah memilih, memindahkan pusat
pemerintahannya, memperbaiki infrastrukturnya, atau kembali menjadi
‘Kolam’? (***)