Prioritas Lebih pada Pendulang Medali

Author : Administrator | Tuesday, June 23, 2015 03:40 WIB | Suara Merdeka - Suara Merdeka

“Cabang olahraga yang menyediakan banyak medali dalam multievent perlu mendapat perhatian lebih”

NAMA Marzuki nyaris tenggelam dalam gegap gempita pesta olahraga SEA Games 2015 di Singapura. Tak banyak yang tahu tentang pria asal Wakatobi Sulawesi Tenggara itu. Padahal, dialah orang pertama yang mengibarkan Merah Putih dan memperdengarkan ‘’Indonesia Raya’’ di arena itu. Ketika kontingen Indonesia paceklik medali pada awal kegiatan itu, Marzuki menjadi pelipur lara atas merosotnya prestasi Indonesia melalui medali emas dari cabang dayung. Jangankan orang awam, media pun tak begitu tahu tentang Marzuki.

Terbukti ada yang menulis namanya Marjuki, bukan Marzuki, seperti tertera di lambung kano yang kayuhannya menghasilkan emas pertama. Namanya kalah beken dari Evan Dimas dan atlet lain yang banyak diliput media. Dayung adalah salah satu di antara banyak cabang yang tidak terlalu dikenal, kalah moncer dari sepak bola, bulu tangkis dan cabang lain. Kondisi itu merupakan gambaran umum betapa perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap cabang yang tidak populer, semisal dayung, masih sangat minim. Perhatian lebih banyak ditujukan pada cabang yang dianggap bergengsi seperti sepak bola, bulu tangkis, bola voli, basket dan cabang yang banyak digemari masyarakat. Perhatian ditunjukkan melalui berbagai hal termasuk anggaran yang lebih besar. Padahal kontribusi medali dari cabang-cabang populer tersebut sangat minim. Dalam olahraga multi event seperti SEA Games yang perolehan medali lebih dominan, seharusnya perhatian lebih besar diberikan kepada cabang-cabang tidak populer tapi menyediakan banyak medali. Seperti atletik, renang dan cabang air, bela diri dan cabang lain. Hasil yang dicapai Indonesia dalam SEAGames Singapura yang baru usai setidak-tidaknya memberi gambaran betapa besar kontribusi cabang yang “tidak populer” dalam menyumbang emas. Sementara cabang-cabang elite yang banyak mendapat perhatian publik justru tidak banyak menyumbangkan medali. Selain jumlah medali yang disediakan hanya sedikit, prestasi atlet Indonesia juga kurang moncer. Sepak bola yang banyak diharapkan menjadi penyumbang medali pemuncak justru tampil mengecewakan. Padahal ekspektasi masyarakat pada sepak bola untuk membawa pulang medali emas sangat tinggi, karena Indonesia sudah terlalu lama puasa gelar dari cabang paling populer ini. Sementara bulu tangkis masih tetap eksis untuk nomor ganda dan beregu, sedangkan basket membuat kejutan dengan merebut perak untuk pria dan wanita.

Kebangkitan basket ini tak lepas dari sistem kompetisi nasional yang berjalan lancar untuk semua jenjang. SEA Games Singapura memberi pelajaran pahit bagi pembinaan olahraga di Indonesia, berada posisi ke-5 dalam perolehan medali. Ini merupakan prestasi terjelek yang dicapai Indonesia sepanjang keikutsertaannya dalam pesta olahraga Asia Tenggara tersebut. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari momen tersebut. Jadi Tolok Ukur Pertama; prestasi dalam bidang olahraga bisa jadi tolok ukur kemajuan bangsa, karena olahraga bukan hanya kegiatan jasmani dan rohani, melainkan sudah melibatkan iptek. Negara-negara maju, prestasi olahraganya juga maju, seperti AS, Tiongkok, Jepang, Rusia dan negara-negara Eropa, sudah menerapkan teknologi terbaru dalam memacu prestasi atlet, baik dalam metode latihan maupun peralatan.

Penggunaan teknologi dalam dunia olahraga adalah keniscayaan, sementara di Indonesia masih banyak cabang olahraga yang menggunakan metode latihan yang sudah out of date. Kalau tidak ingin makin tertinggal di lingkup Asia dan ASEAN, pemanfaatan iptek untuk pembinaan olahraga harus ditingkatkan. Kedua; perhatian terhadap cabang yang menyediakan banyak medali harus lebih ditingkatkan, meskipun cabang yang tidak populer semisal dayung atau angkat besi. Perhatian dalam bentuk penyediaan peralatan untuk latihan dan bertanding.

Cabang seperti dayung yang menjadi juara umum di SEA Games harus terus didorong untuk menciptakan prestasi di tingkat Asian Games dan Olimpiade. Pembinaan berjenjang dari daerah harus ditingkatkan melalui pemusatan latihan. Dalam multievent nasional seperti PON atau porda/porprov di tingkat daerah, cabang yang jadi tambang emas itu harus mendapat perhatian serius. Ketiga; konflik dalam dunia olahraga terbukti berdampak buruk pada prestasi di tingkat internasional. Prestasi buruk di SEA Games adalah buah banyaknya konflik, baik dalam induk olahraga maupun di masing-masing cabang.

Belum lagi silang sengketa antara Kemenpora, KONI dan KOI dalam menangani olahraga nasional. Masuknya unsur politis makin membuat suasana tidak kondusif. Setelah Indonesia terpuruk di SEAGames maka pemerintah, KONI dan KOI harus mulai berbenah mengatasi berbagai kelemahan dalam pembinaan prestasi. Mengelola olahraga dengan memanfaatkan kemajuan teknologi sudah jadi keharusan kalau ingin memenangi persaingan di kancah internasional. Cabang olahraga yang menyediakan banyak medali dalam multieventperlu mendapat perhatian lebih, termasuk dalam anggaran.

Harvested from: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/prioritas-lebih-pada-pendulang-medali/
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared: