Meneliti Komunitas Samin, Rosyid Raih Doktor

Author : Administrator | Saturday, June 15, 2013 14:36 WIB | Suara Merdeka - Suara Merdeka

PERJALANAN dan konsistensi Moh Rosyid, dosen STAIN Kudus, terbayar sudah. Perjuangan meneliti Komunitas Samin atau yang dikenal dengan nama Sedulur Sikep, tak lagi terasa setelah Selasa (11/6), di ruang sidang Gedung Pescasarjana IAIN Walisongo Semarang, ia dinyatakan lulus oleh delapan penguji dalam ujian terbuka promosi doktor yang dijalaninya. Ia mempertahankan disertasi berjudul ‘’Konversi Agama Masyarakat Samin: Studi Kasus di Kudus, Pati, dan Blora’’ yang dikajinya di depan para penguji yang terdiri atas Prof Dr H Muhibbin (ketua Senat/penguji), Dr H M Nafis MA (sekretaris Senat/penguji), dan Prof Dr H Abdullah Hadziq MA (promotor/ penguji). Selain itu, ada Dr David Samiyono (co-promotor/penguji), dan Prof Dr H Mudjahirin Thohir MA (penguji eksternal/Undip), Prof Dr H Suparman Syukur MA (penguji), Prof Dr Hj Ismawati MAg (penguji), dan Prof Dr H Ibnu Hadjar MEd (direktur Pascasarjana IAIN Walisongo/penguji).

Intensitas Rosyid mengkaji Komunitas Samin tak hanya untuk disertasi. Jauh sebelum masuk ke Program S-3 IAIN Walisongo, dia sudah melakukan berbagai riset soal Sedulur Sikep ini. ‘’Pertama kali saya berinteraksi dengan Komunitas Samin pada 2004. Saya bertemu Pak Budi Santoso di Desa Larikrejo, Kecamatan Undaan, Kudus,’’ ujarnya. Apa yang membuatnya tertarik meneliti Samin, sementara tidak sedikit publik yang masih memandang negatif terhadap komunitas ini? Ia melakukan penelitian ini berpijak pada ajaran Alquran, bahwa tidak boleh suatu kaum mengolok- olok kaum (komunitas) lain, karena barangkali mereka lebih baik dari yang mengolok-olok atau mencela. ‘’Ternyata, Samin tidak seperti yang dipandang publik selama ini yang dicitrakan negatif,’’ tuturnya.

Mulai Pengembaraan Setelah pertemuan dengan Budi Santoso, tokoh Samin Desa Larikrejo, berlanjut. Rosyid kemudian tekun menelaah dan mempelajari komunitas ini secara serius. Berbagai buku dan hasil riset terkait Komunitas Samin, dibacanya. ‘’Pertama kenal Samin dari buku kumpulan riset Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berjudul Masyarakat Samin dan Tengger,’’ katanya. Setelah membaca buku itu, ia semakin tertarik memperdalam pengetahuaannya tentang Samin. Interaksi harmonis ia bangun dengan Komunitas Samin di Kudus, lalu melebar ke Sukolilo (Kabupaten Pati), dan terakhir, untuk memperdalam kajian untuk disertasi, ia melawat ke Dukuh Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Blora. ‘’Saya juga membaca Tradisi dari Blora karya Suripan Sadi Hutomo dan The Samin Movement karya Lance Castle,’’ ungkapnya.

Buah ketekunannya menghasilkan berbagai studi tentang Samin yang cukup beragam, seperti Pendidikan Agama vis a vis Pemeluk Agama Adam (2004), Perempuan Samin (2005), Kodifikasi Ajaran Samin (2008), Samin dan Asketisme Lokal (2008), Perlawanan Samin (2012), dan Konversi Agama Masyarakat Samin (2013). Rosyid mendapatkan reward dari Litbang Kementerian Agama untuk risetnya ‘’Pendidikan Agama vis a vis Pemeluk Agama Adam’’, reward dari Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) pada 2005 saat meneliti ‘’Perempuan Samin’’ pada 2005, dan reward dari Litbang Kementerian Agama Semarang (2008) berkat risetnya ‘’Samin dan Asketisme Lokal’’. Saat ini ia tengah menunggu kepastian dari Pusat Studi HAM Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta untuk menerbitlan disertasinya. ‘’Saya sudah berkomunikasi dengan Pak Eko Riyadi dari Pusat Studi HAM UII. Belum ada kepastian, sehingga kalau ada yang tertarik untuk mendanai, dengan senang hati saya persilakan,’’ katanya. (Rosidi-37)

Harvested from: http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2013/06/15/227782/Meneliti-Komunitas-Samin-Rosyid-Raih-Doktor
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared: