Jurnalisme Damai di LayarKaca

Author : Administrator | Saturday, August 24, 2013 14:18 WIB | Suara Merdeka - Suara Merdeka

KEHADIRAN media televisi Indonesia ditandai dengan siaran kali pertama TVRI pada 24 Agustus 1962. Stasiun televisi itu berkembang pesat sebagai lembaga penyiaran yang banyak menyiarkan kepentingan pemerintah.

Setelah 27 tahun menikmati berbagai proteksi sebagai ‘’pemain tunggal’’, ia mendapat pesaing baru dari swasta, yakni RCTIyang mengawali siaran pada 24 Agustus 1989. Sebagai pelopor industri pertelevisian, TVRI telah meletakkan dasar jurnalisme televisi yang baik, terutama dalam teknik penyampaian berita dengan mengabaikan konten. Waktu itu, khalayak tak bisa banyak berharap TVRI membuka wawasan bagi tumbuhnya demokratisasi, karena materi tayangan lebih menyuarakan kepentingan pemerintah.

Maklum, kala itu Orde Baru masih sangat kuat menguasai seluruh sektor kehidupan, termasuk media. Industri pertelevisian berkembang menjadi industri seksi yang menjanjikan keuntungan menggiurkan. Konten beritanya pun berubah, dari model pemberitaan santun dan formal ala TVRI menjadi model yang bebas, baik dalam penampilan maupun konten.

Maka televisi bukan hanya jadi media hiburan melainkan juga media agitasi dan provokasi melalui saling serang dan perang kata. Jurnalisme perang yang dikhawatirkan oleh Profesor Johan Galtung, ahli studi pembangunan, ternyata saat ini tiap hari muncul di layar kaca kita.

Dari peristiwa kekerasan dan peperangan sesungguhnya sampai kekerasan verbal dengan kata-kata. Jurnalisme perang lebih banyak menampilkan berita konflik dan kekerasan apa adanya. Pola ini pula yang banyak dipakai oleh infotainment televisi swasta yang menonjolkan konflik rumah tangga artis ataupun konflik sesama artis dan masyarakat. Stasiun televisi juga memberi wadah besar untuk konflik yang melibatkan politikus, pejabat, aktivis, kelompok agama dan lainnya.

Konflik itu tak hanya ditampilkan dalam acara berita tapi juga diulas panjang lebar lewat tayangan dialog, debat, atau wawancara khusus. Ketika dua pihak yang berkonflik ditampilkan, terjadilah jurnalisme perang secara verbal, saling serang, mencaci dan menjatuhkan. Mereka yang berkonflik dihadapkan seperti dua pihak bermusuhan yang dipisahkan oleh pewawancara yang bertugas menjadikan dialog tersebut ‘’makin panas’’.

Kekerasan verbal pun meningkat menjadi kekerasan fisik. Kita tentu ingat seorang juru bicara sebuah kelompok menyiramkan air teh ke wajah tokoh kampus saat keduanya diwawancarai. Kerap kali berita di layar kaca menampilkan kekerasan dengan semangat jurnalisme perang. Sebuah stasiun televisi pernah menampilkan secara live bentrok antara personel Satpol PPdan warga yang menolak penggusuran sebuah makam.

Jurnalisme Damai

Untuk mencegah makin kemerebakan jurnalisme perang, Galtung, yang kemudian diikuti Annabel Mc Goldrick dan Jake Lynch mengembangkan jurnalisme damai (peace journalism) untuk mengembalikan kegiatan jurnalistik ke arah semula, sebagai pembela kepentingan publik. Jurnalis Indonesia pernah mengembangkan jurnalisme damai ketika banyak kerusuhan terjadi: peristiwa kerusuhan diberitakan apa adanya, as is, tanpa upaya untuk berkontribusi agar konflik itu tidak makin meluas. Beberapa kali diadakan seminar dan lokakarya guna membahas jurnalisme damai penerapan dalam praktik, bagaimana wartawan meliput dan menuliskan.

Begitu juga editor, bagaimana menyiapkan dan menyajikan berita konflik dengan semangat memprovokasi pihak-pihak yang bermusuhan untuk menemukan jalan keluar. Melalui peran mengedukasi khalayak, media bisa melakukan pendekatan menang-menang untuk mencari makin banyak alternatif menyelesaikan konflik.

Jurnalisme damai menurut Goldrick dan Lynch bisa terwujud ketika redaktur dan reporter menetapkan ìpilihan- pilihan bersifat damaiî tentang apa yang akan dilaporkan, dan bagaimana melaporkan. Dalam pemberitaannya, media menempatkan dua pihak yang bersengketa dalam posisi sama, tidak menempatkan salah satu pihak sebagai ëímerekaíí dan pihak lain sebagai ëíkita.íí

Meskipun agak sulit untuk mencari praktik jurnalisme damai, kita masih bisa menemukannya pada TVRIdan acara berita dan dialog. Para host seperti Soegeng Sarjadi, Todung Mulya Lubis, dan Rhenald Kasali mengajak pemirsa untuk menikmati jurnalisme damai. Penguasaan kuat materi, tidak menggurui, dan memberi kesempatan sumber untuk bicara secara leluasa menjadikan masalah dibahas secara komprehensif, meskipun acap agak membosankan. Sayang, rating acara semacam itu rendah. (10)

— Husnun N Djuraid, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

Harvested from: www.suaramerdeka.com
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared: