Menhan Perkenalan Smart Power untuk Pertahanan

Malang, 10 August 2010

Menteri pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro memberikan produk Smart Power Kemhan berupa buku putih TNI.

Semarak seabad Muhammadiyah terus bergema, meskipun muktamar yang dihelat telah lewat. Suasana masih terasa dengan diselenggarakannya Seminar Nasional Pertahanan Negara di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Selasa (13/07), bertempat di Theater Dome. Seminar dihadiri menteri pertahanan RI, Prof. Purnomo Yusgiantoro, Ph.D., sebagai  Keynote Speeker sekaligus membuka seminar dengan didampingi oleh Majelis Dikti PP Muhammadiyah Prof. Dr. Chairil Anwar dan rektor UMM, Dr. Muhadjir Effendi, MAP.

Chairil Anwar, dalam sambutannya menjelaskan bahwa acara tersebut merupakan syiar seabad Muhammadiyah. Selama ini, Muhammadiyah mempunyai perhatian yang besar terhadap masalah pertahanan negara. Bahkan dalam Islam terdapat doktrin cinta tanah air adalah bagian dari keimanan.

Rektor UMM menyatakan bahwa seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan ilmiah untuk memperingati se-abad Muhammadiyah. “Acara ini tidak akan berakhir sampai disini, karena selanjutnya masih akan ada dua seminar lagi, yaitu Reformasi Polri dan Reformasi Pendidikan Nasional”, jelas Muhadjir.

Muhadjir juga menyatakan bahwa sumbangan besar Muhammadiyah terhadap pertahanan negara adalah eksistensi Jendral Sudirman, yang sejatinya adalah kader Muhammadiyah. Selain itu, UMM merasa berkepentingan untuk meningkatkan intellectual exercise di bidang pertahanan negara. “Sehingga hasil dari seminar ini bias diterbitkan berupa proceeding dan diharapkan sebagai master piece dalam usaha pertahanan negara”, harap rektor.

Muhammadiyah (UMM) berencana akan concern pada pertahanan yang selama ini sedikit terabaikan oleh masyarakat umum. Biasanya hanya negara dan aparatusnya yang peduli pada urusan vital tersebut. Walaupun kontribusi UMM relatif kecil tetapi akan relevan dalam skala yang lebih luas. TNI dan Muhammadiyah akan konsen dalam membahas hal ini. Seperti halnya yang dilakukan Jenderal Sudirman sebagai salah satu pendiri TNI.

“Jangan mengira bahwa wajib militer harus ikut perang. Hasil dari pelatihan militer akan sangat bermanfaat untuk kantor dimana orang tersebut bekerja”, tambah Muhadjir. Misalnya, akan berpengaruh besar pada semangat kerja dan disiplin diri. Selain itu, direncanakan UMM akan mendirikan pusat studi tentang pertahanan negara.

Menyambut hal itu, menteri pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, memberi apresiasi dan dukungan tentang rencana pembangunan pusat studi tersebut. Menurut Purnomo, mencintai bangsa dan negara tidak harus melalui militer. “Selama ini pun, para ahli militer banyak yang berasal dari kalangan sipil. Pejabat di lingkungan Dephan juga banyak dari sipil”, ungkap Menhan  menegaskan.

Sejalan dengan rencana UMM untuk mendirikan pusat studi pertahanan, menhan juga menjelaskan tentang konsep Smart Power yang prinsipnya adalah sinergi potensi dari sipil dan militer yang output-nya menghasilkan produk – produk strategis dalam usahanya mempertahnkan Negara.

“Produk Strategis yang sudah dihasilkan yaitu berupa buku–buku. Sebagian judul akan disumbangkan ke UMM yaitu: Buku Putih, Pertahanan Indonesia 2008, Strategi Pertahanan Negara, Doktrin Pertahanan Negara, Postur Pertahanan Negara, Penyelarasan Buku Produk Strategi Pertahanan Negara, Minimum Esential Force Komponen Utama”, jelas menhan.

Selanjutnya, Purnomo menjelaskan mengenai pengembangan kebijakan umum pertahanan negara. Seperti yang terangkum di dalamnya, Kebijakan Umum Pertahanan Negara (Jakum Hanneg), Kebijakan Umum Pertahanan Negara Komponen Utama (TNI), JAK MEF (Minimum Essensial Force) tahun 2010 – 2014, Ringkasan Kebijakan Umum Pertahanan Negara. Esensi kebijakan umum pertahanan Negara (Jakum Hanneg)  adalah untuk pengelolaan sistim pertahanan negara untuk melindungi kepentingan nasional dan mendukung kebijakan nasional (Jaknas) di bidang pertahanan.

Selesai menyampaikan presentasinya, menhan berkenan menandatangani prasasti peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sengkaling 1 yang proses pembangunannya banyak mendapat dukungan dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral saat masih dibawah Prof. Dr. Purnomo Yusgiantoro. (rwp/jss)

 

 


published by HUMAS UMM
  

Arsip Berita UMM