Mantan Tentara AS Bantu Perjuangan Pemberontak Suriah

Author : Administrator | Thursday, March 14, 2013 08:53 WIB
Eric Harroun, mantan tentara AS yang membantu pejuang Suriah
Suriah - Seorang mantan tentara Amerika Serikat berangkat ke Suriah dan bergabung dengan kelompok militan pemberontak di negara tersebut. Dia adalah satu dari banyak kelompok mujahidin Barat yang membantu perjuangan menggulingkan rezim Bashar al-Assad.

Eric Harroun, 30, asal Phoenix, dijuluki oleh para pemberontak di Suriah dengan sebuah "Orang Amerika". Di akun Facebook dan Youtube, Harroun aktif memberitakan kegiatannya dalam memerangi tentara Assad yang kadang ditingkahi oleh pembunuh bayaran dari sekte Syiah Allawi, Shabiha.

"Bersiap untuk menghabisi tentara Bashar Al-Assad dan para Shabiha," kata dia dalam sebuah foto, sambil di mulutnya terselip sebatang rokok, menggenggam senapan sniper.

Dalam akun Facebooknya, terlihat Eric memegang banyak senjata. Mulai dari pistol, senapan, mortir, dan persenjataan berat lainnya. Dia mendeskripsikan diri sebagai Muslim Sunni di Facebook dan mengaku membenci Israel dan Zionis. "Zionis yang baik hanya yang sudah mati," ujarnya, dilansir Daily Mail.

Ayahnya, Darryl Harroun, mengaku keberatan anaknya berangkat ke Suriah. Dia bersiap untuk setiap kemungkinan terburuk, termasuk mendengar kabar kematian anaknya.

Menurutnya, putranya itu tidak pernah terlibat dalam pertempuran sesungguhnya sejak masuk angkatan darat tahun 2.000 hingga 2003. Dia keluar dari militer setelah mengalami kecelakaan mobil. Selama beberapa tahun, dia masih menerima tunjangan kecelakaan dari angkatan bersenjata AS.

"Dia sangat cinta belahan dunia sana. Kami heran dan bertanya-tanya apa yang dia lakukan. Saya katakan 'kau tidak akan bisa mengubah pandangan orang di sana' tapi dia menjawab 'mereka memperlakukan saya seperti pahlawan'," kata Darryl.

Awalnya Eric bergabung dengan Brigade Amr bin Ash. Namun sejak akhir bulan lalu, Eric telah bergabung di kelompok militan an-Nusra yang berafiliasi dengan Al-Qaeda. "Bergabung dengan kelompok ini tidak mudah. Perlu keberanian dan kecerdasan," kata dia.

Kabar bergabungnya Eric ke kelompok itu menambah galau keluarganya. "Saya tahu suatu saat nanti kami akan mendapatkan pesan dari sana, mengabarkan bahwa anak saya telah tewas," kata Darryl.

Eric adalah satu dari banyak orang di Barat yang bergabung dengan pejuang Suriah. Ratusan di antara mereka berasal dari Eropa. Pemerintah Belanda bahkan telah mengantisipasi kepulangan para mujahidin dengan meningkatkan level ancaman teror satu tingkat.
من المقطوع: http://dunia.news.viva.co.id
Shared:

Comment

Add New Comment


characters left

CAPTCHA Image


Shared:
1